belajarbarengyuk

hanya untuk yang mau berbagi dan menggali

Hukum Membaca Al-Quran dan Duduk di Masjid Bagi Perempuan Haid

Posted by Belajar Bareng Yuk pada 18 Februari 2011

Oleh: Ustadz Muhammad Fauzi dalam Fatwa

Sebagian dari umat Islam memandang bahwa hukum membaca Al-Quran, memegang Al-Quran dan masuk ke dalam masjid bagi perempuan haidh dan orang yang berhadas besar adalah sama. Tetapi apabila kita amati pendapat-pendapat ulama di dalam masalah ini kita akan dapati bahwa mereka membedakan di antara setiap masalah tersebut. Di sini kami mengambil kesempatan untuk menjelaskan kepada pembaca pendapat para ulama di dalam beberapa masalah yang berkaitan dan menyatakan kesimpulan kami di dalam masalah tersebut. HUKUM MEMBACA AL-QURAN BAGI PEREMPUAN HAID Para ulama bersepakat mengatakan haram bagi seseorang yang berhadas besar membaca Al-Quran. Ini Karena dalil di dalam masalah ini adalah kuat dan jelas. Manakala bagi perempuan haidh, mereka khilafiyah (berbeda) di dalam masalah ini karena kelemahan dalil yang berkait dengan masalah ini. Jumhur ulama mengatakan haram bagi perempuan haidh membaca Al-Quran: 1. Imam At-Tarmizi mengatakan bahwa itu adalah pandangan mayoritas ahli ilmu di kalangan sahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya. (Jami’ Usul Jilid 7, hal 358 dan Bidayah Mujtahid Jilid 1 hal 56) 2. Imam al-Nawawi (ulama mazhab Syafi’i) mengatakan bahwa itu adalah pendapat yang diriwayatkan dari Umar, Ali dan Jabir r.a. dan juga pendapat Al-Hasan al-Basri, Qatadah, Atho’, Abu Al-Aliyah, An-Nakha’i, Said bin Jubair, Az-Zuhri, Ishak dan Abu Thur. 3. Imam Ahmad mempunyai dua riwayat di dalam masalah ini; pertama haram dan kedua harus. 4. Pendapat yang masyhur di dalam mazhab Syafi’i haram bagi perempuan haidh membaca Al-Quran. Sebagian ulama pula mengatakan harus atau boleh: 1. Jumhur ulama mazhab Syafi’i dari Khurasan mengatakan bahwa qaul qadim (fatwa Imam Syafi’i sebelum dia berpindah ke Mesir) adalah harus bagi perempuan haidh membaca Al-Quran. (Majmu’ Syarah Muhazzab Jilid 2 hal 356) 2. Muktamad di dalam mazhab Maliki adalah harus bagi perempuan haidh membaca Al-Quran secara mutlak dalam apa juga keadaan kecuali apabila haidhnya berhenti, diharamkan dia membaca Al-Quran sehinggalah dia mandi. Dalil bagi yang mengatakan haram membaca Al-Quran bagi perempuan haidh ada dua: 1. Hadits yang diriwayatkan oleh At-Tarmizi dari Abdullah bin Umar r.a.: “Janganlah seorang perempuan haidh dan seorang yang berhadas besar membaca apa-apa dari ayat Al-Quran.” 2. Dalil kedua adalah qiyas. Hukum perempuan yang haidh diqiyaskan kepada hukum orang yang berhadas besar Karena wujudnya ‘illah’ yang membolehkan kedua-dua hukum ini disamakan. Berkenaan dalil yang pertama, Imam Nawawi berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tarmizi dan Al-Baihaqi daripada Abdullah bin Umar r.a. tetapi At-Tarmizi dan Al-Baihaqi mengatakan bahwa Hadits ini adalah Hadits dhaif.” (Majmu’ Syarah Muhazzab Jilid 2 hal 356). Ulama mazhab Hanafi juga bersetuju bahwa Hadits ini dhaif walau pun mereka berpendapat bahwa perempuan yang haidh haram membaca Al-Quran (al-Binayah Jilid 1 hal 643–644). Ulama yang mengatakan haram membaca Al-Quran bagi perempuan yang haidh seterusnya mengatakan bahwa walau pun Hadits ini dhaif tetapi ia boleh dijadikan dalil Karena ada Hadits-Hadits dari pelbagai riwayat yang menguatkannya. Manakala dalil bagi ulama yang mengatakan harus atau boleh bagi perempuan yang haidh membaca Al-Quran ada dua: 1. Hadits yang diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa beliau membaca Al-Quran ketika beliau berada dalam keadaan haidh. 2. Dalil akal yang membedakan di antara haidh dan hadas besar. Haidh temponya panjang berbanding hadas besar. Tidak membaca Al-Quran untuk tempo yang panjang akan menjadikan dia lupa. Di samping jika sekiranya dia adalah seorang guru agama yang mengajar Al-Quran, hukum haram tersebut akan menjadikan mata pencariannya terganggu. (Majmu’ Syarah Muhazzab Jilid 2 hal 357) Dengan itu kami simpulkan bahwa perempuan haidh adalah haram membaca Al-Quran dengan berpandukan dalil-dalil di atas. Jumhur sahabat, tabi’in dan ulama sesudah mereka berpendapat demikian dan ini menunjukkan kekuatan pendapat ini. Walau pun begitu diharuskan atau boleh bagi perempuan haidh membaca Al-Quran di dalam keadaan darurat dan atas sebab-sebab tertentu seumpama yang disebutkan di atas. HUKUM BERADA DI DALAM MASJID BAGI PEREMPUAN HAID Hukum berada di dalam masjid bagi perempuan haidh sama seperti hukum membaca Al-Quran yaitu ulama yang mengatakan haram mereka berdalilkan dalil yang lemah dan qiyas kepada hukum hadas besar. Imam Malik, At-Thauri, Ibnu Rohawih dan Ibnu Mas’ud berpendapat bahwa haram bagi perempuan haidh berada di dalam masjid. Dalil yang mengatakan haram berada di dalam masjid adalah: 1. Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Abu Daud daripada Aisyah r.a.: “Aku tidak halalkan masjid bagi orang yang berhadas besar dan perempuan yang haidh.” 2. Qiyas orang yang berhadas besar yang diambil dari firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu hampiri sembahyang (mengerjakannya) sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu sadar dan mengetahui akan apa yang kamu katakan dan janganlah pula (hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub (berhadas besar) kecuali kamu hendak melintas saja hingga kamu mandi bersuci…” (An-Nisa: 43) Walau pun begitu Imam Nawawi mengatakan bahwa Hadits di atas tidak mempunyai sanad yang kuat. Begitulah juga ulasan ulama mazhab Hanafi berkenaan Hadits ini (Al-Niyabah Jilid 1 hal 636). Para ulama yang mengatakan haram berada di dalam masjid bagi perempuan haidh bagaimana pun mengharuskan mereka lalu di dalam masjid untuk sesuatu tujuan. Ibnu Qudamah berkata: “Harus melintas di dalam masjid untuk sesuatu keperluan seperti mengambil sesuatu atau mengantar sesuatu atau karena memang itu adalah jalan lalu lintas bagi orang ramai.” At-Thauri dan Ishak berkata: “Tidak boleh berlalu di dalam masjid kecuali jika terpaksa tetapi dia hendaklah bertayammum dahulu.” Ini juga adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ibnu al-Musayyib, Al-Hasan, Imam Malik dan Imam Syafi’i. Di antara dalil pengecualian ini adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim daripada Aisyah r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda kepadanya: “Ambilkan aku khumrah (sejenis sejadah).” Aisyah r.a. berkata: “Tetapi aku berada dalam keadaan haidh.” Rasulullah s.a.w. menjawab: “Darah haidh kamu bukan berada di tangan kamu.” (Al-Mughni Jilid 1 hal 166).

Dengan itu kami simpulkan bahwa hukum duduk di dalam masjid bagi perempuan haidh untuk mendengar pengajian dan sebagainya adalah harus atau boleh selagi mana wujudnya keperluan dan maslahah syar’iyah serta terjamin tidak mengotori masjid.

untuk lebih jelasnya bisa anda klik di:

http://satuperkongsian.wordpress.com/2007/05/21/hukum-membaca-al-quran-dan-duduk-di-masjid-bagi-perempuan-haid/

Posted in Bidang Ilmu | Leave a Comment »

BELAJAR MEDIA PEMBELAJARAN ONLINE

Posted by Belajar Bareng Yuk pada 16 Februari 2011

Media Pembelajaran Online merupakan salah satu situs yang dimiliki oleh Dinas Pendidikan untuk berbagi dan mencari informasi, bahkan siswa dapat aktif dalam melihat tugas yang diberikan guru serta dapat mengirimkan jawabannya, sehingganya dikemudian hari guru dan siswa dapat lebih aktif serta terbiasa dalam menggunakan Teknologi Informasi Kompoter (TIK). Ah… gak usah terlalu banyak basa-basi deh, ntar keburu basi beneran langsung aja kita ke pokok permasalahan bagaimana cara kita bergabung di situs ini. Berikut ini langkah-langkahnya:

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.